Cinta Hingga ke Surga

Mencintaimu, seperti bernafas yang tak sedikitpun merasa bosan karenanya. Maka mencintaimu adalah sebuah kebutuhan, untuk kelangsungan sebuah hidup dan kehidupan.

Sebentar saja ku menahan nafas, sesak terasa berat di dada. Maka (jika) sedikit saja tidak mencintaimu, itu akan menyakitiku. Mencintaimu melapangkan dadaku.

“Istriku, sungguh, semakin hari aku semakin mencintaimu.” Kataku disuatu pagi, sebelum berangkat ke tempat kerja. Tersipu, memerahlah pipimu saat itu, dan itu, membuatku semakin bertambah dan bertambah.

“Istriku, inilah mungkin yang Allah janjikan. Jika ketika kita bersyukur, maka bertambahlah nikmat-Nya yang tercurah kepada kita. Begitupun aku selalu bersyukur atas “energy” cinta yang kau berikan, maka bertambahlah cinta itu yang kuterima darimu, dan itu berbalik kepadamu.”

“Ibarat sebuah hukum kekekalan energy, energy yang diterima sama dengan energy yang diberikan. Besarnya cinta ku ini padamu, adalah sebab besarnya cinta yang kau berikan kepadaku. Terus-menerus menjadi sebuah lingkaran cinta, hingga semakin menguat, bertambah.”

Panjang lebar aku mencoba mengaitkan beberapa teori dengan cinta ini.

“Bisa jadi ada benarnya, yank.” Kamu tetiba berkata. “Tapi yang pasti, aku mencintaimu itu karena Allah dan oleh Allah. Allah-lah yang tak henti-hentinya menaburkan benih cinta diantara kita, dan bersebab kita merawat dan memupuknya, benih cinta ini tumbuh subur dan berbuah. Semoga, buah yang dihasilkan manis rasanya, sehingga bisa dinikmati tidak hanya oleh kita, tapi orang-orang terdekat kita (keluarga). Artinya, dengan kekuatan cinta kita ini, maka keluarga terdekat kita pun semakin tercintai dan merasakan cinta yang sama dengan kita.” Panjang lebar kamu kemudian menyampaikan hakikat cinta yang kita miliki ini.

Ah, semakin aku tak ragu untuk mencintaimu seutuhnya. Sehingga kelak, cinta ini kan sampai ke surga-Nya. Cinta se-hidup, se-surga. Aamiin….

~Imam Nugroho~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *