Biarlah Hanya Merasa

Kita (sering hanya) merasa telah berbuat baik ke orang. Padahal, bisa jadi itu bagi orang lain adalah biasa-biasa saja, bahkan bisa sangat menyebalkan. Bagaimana bisa?

Pernahkah kita, melihat langsung dengan mata sendiri, saat kita tersenyum ke orang? Saya jamin, kita tidak bisa melakukannya, selain menggunakan cermin di depan. Artinya, saat tersenyum, itu hanya merasa. Dan orang yang kita beri senyuman, yang melihat langsung senyum berserta ekspresi wajah dan (maaf) bibir kita, ialah yang menerjemahkan arti senyuman itu. Ia bisa mengartikan senyuman kita istimewa, biasa-biasa saja, lebay, alay, atau bahkan menyebalkan. Kita tidak bisa memaksa ia untuk mengartikan senyum seperti yang kita maksudkan.

Disinilah, kita hanya mampu merasa. Dan sangat besar peluangnya, apa yang kita rasakan, berbeda dengan yang orang lain rasakan. Kita merasa telah berbuat baik, memberikan yang terbaik, tapi orang bisa mengartikan sebaliknya.

Maka kemudian, kita dituntut untuk berbuat kebaikan itu, dengan ikhlas. Tak perlu berharap mendapat kebaikan dari orang yang kita beri kebaikan itu. Lalu, lupakanlah kebaikan, tak elok diucap-ucap segala kebaikan yang pernah dilakukan. Apalagi mengungkit kebaikan pada seseorang, sehingga orang tersebut merasa sakit hati, bersebab kita menilai ia tidak membalas kebaikan yang pernah kita lakukan. Jika seperti itu, sia-sia lah semua kebaikan yang terlakukan.

Lepaslah saat berbuat kebaikan untuk sesama. Tak usah dilihat-lihat. Tak usah berharap dapat kembalian tunai dari orang tersebut.

Namun, saat kita hendak marah, berbuat jahat, buruk, atau segala hal kejelekan ke orang, lihatlah terlebih dahulu, sebelum kita “berikan” ke orang lain. Analoginya?

Lakukan ekspresi cemberut (yang optimal). Dan saat itu, kita ternyata mampu melihat (maaf) bibir kita yang “manyun” ke depan. Baguskah ekspresi itu? Jika kita melihat bibir yang manyun itu jelek, maka jangan kita berikan kepada orang lain. Karena otomatis, orang lain pun akan melihat hal tersebut jelek, menyebalkan. Disinilah saatnya kita sadar, untuk tidak memberikan sesuatu yang buruk kepada orang lain. Bersebab kita saja melihatnya tidak baik, tidak enak, menyebalkan.

Tahanlah diri saat hendak berbuat buruk atau jahat, kepada orang lain. Lihatlah terlebih dahulu dampak buruknya. Bukan sekedar mengekspresikan kekesalan, tapi apa akibat dari yang terlakukan atas keburukan itu.

Saat senja di penghujung waktu kerja,

Imam Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *