Resolusi 2020, Resolusi Akhirat

Penghujung tahun 2019, Allah subhanahu wata’ala menunjukkan ayat kauniyahnya. Ya, 26 Desember 2019, telah terjadi gerhana matahari cincin, dan itu bisa dilihat dibeberapa daerah di Indonesia. Ayat kauniyah ini bukan sekedar “pertunjukan” biasa, tapi ia adalah tanda kebesaran Allah bagi mereka yang berfikir.

Diawal tahun 2020, Allah subhanahu wata’ala menurunkan hujan hampir sepanjang malam, dengan curah yang cukup tinggi. Satu sisi, ia setidaknya mengurangi kemudharatan (bahkan kemaksiatan) yang biasa terjadi di awal tahun baru. Namun kemudian, curah hujan yang tinggi tersebut, juga mendatangkan banjir, di hampir semua wilayah Jabodetabek (saya tinggal di Bekasi, dan korban terdampak banjir awal tahun ini). Disini, Allah juga ingin munguiji, siapa hamba-hambaNya yang bersabar dalam musibah yang menimpa.

Ayat kauniyah yang Allah tunjukkan dan ujian kesabaran dalam musibah, sejatinya adalah bentuk “kepeduliannya” Allah sebagai kholiq, kepada manusia sebagai makhluq. Karena kita “yang terciptakan”, kholaqa, memerlukan kedekatan kepada Sang Kholiq. Yang kadang, untuk membuat kita dekat dengan-Nya, kita perlu diuji.

***

Saat gerhana matahari cincin, saya sedang dalam perjalanan menuju Banda Aceh. Selama berada didalam pesawat, diketinggian sekitar 35.000 kaki, tak henti-hentinya saya bertakbir dan berdzikir kepada Allah. Menerungi betapa kecilnya diri ini. Bahkan, dalam ketinggian tersebut, bumi yang kita pijak, bumi yang dengan segala gemerlapnya dunia, bumi yang kita bersusah payah mengumpulkan harta benda, tak terlihat dengan jelas sedikitpun. Apalagi dibandingkan dengan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.

Maka masihkah kita bersombong selama hidup didunia ini? Bersombong atas apa-apa yang termiliki?

Matahari, yang hanya terhalangi bulan, kitapun tergelapkan karenanya. Ah, bagaimana nanti saat awan gelap menyelimuti bumi sesaat sebelum kiamat? Bagaimana jika saat awan gelap itu hilang, matahari tidak lagi terbit dari timur, tetapi terbit dari barat? Apakah kita sudah siap? Ya Allah, lindungi hamba dari fitnah dajjal….

Menangis, hanya itu yang saya alamai, saat itu. Melihat diri yang penuh dengan dosa dan dosa. Melihat diri yang sangat sedikit perbekalan untuk kehidupan abadi, nanti. Sementara kadang diri ini merasa, hidup masih 100 tahun lagi. Astaghfirullah….

***

Saat banjir awal tahun ini, saya mendapati beberapa harta benda, baik yang dimiliki sendiri atau yang dimiliki orang lain (seperti mobil, motor, dan perabotan berharga lainnya), tak sedikitpun memberikan manfaat. Padalah ia, semua kemewahan tersebut, yang dengan susah payah kita dapatkan, bahkan terkadang ada sedikit kesombongan atasnya. Namun sekali lagi, sungguh, ia tidak memberikan manfaat sedikitpun saat banjir melanda. Ia bahkan menjadi beban setelah benjir itu surut.

Maka masihkah kita bersombong selama hidup didunia ini? Bersombong atas apa-apa yang termiliki?

Astaghfirullah….

***

Allah subhanahu wata’ala masih sayang sama kita, hamba-hambaNya. Dia ingin kita selalu mengingat dan dekat denganNya. Maka, diawal tahun ini, resolusi kita adalah memperbaiki hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala. Resolusi kita adalah membekali diri dengan amalan hasanah dengan hati yang ikhlas dan lurus, yang dengannya kita bisa bertemu dengan-Nya kelak di hari akhir. Resolusi kita adalah akhirat, yang dengannya duniapun akan kita dapat.

Tak perlu lagi resolusi-resolusi keduniaan. Toh selama ini tak pernah kita dapatkan, bukan?

Sesaat setelah bersih-bersih rumah yang terdampak banjir, Januari 2020.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *