Ramadhan Berlalu, Corona?

Ramadhan beberapa saat lagi akan berakhir. Meninggalkan jejak-jejak ibadah dalam suasana Pandemi Covid 19. Jujur, berbeda memang saat aktivitas ibadah tidak lagi terpusatkan di Masjid. Betul, jika hal itu jangan sampai mengurangi kualitas ibadah kita. Tapi Masjid, adalah simbol syiar Islam. Bukankah saat pertama tiba ke Madinah, Rasulullah membangun masjid terlebih dahulu?

Terlepas dari itu semua, Ramadhan lagi lagi, akan segera berlalu. Dan yang menjadi kegelisahan berikutnya adalah, kapan Pandemi Covid 19 ini berlalu?

Sungguh Covid ini telah mematikan satu urat nadi kehidupan. Setidaknya itu yang saya rasakan. #DiRumahSaja ketika dalam waktu sebentar, mungkin tidak jadi soal. Namun ketika itu harus sampai berbulan dua bulan, menjadi masalah tersendiri. “Serasa hidup di dalam goa.” Itu yang sering saya bicarakan dengan istri di rumah.

Sayangnya, sementara saya tetap menahan diri untuk #DiRumahSaja, pas sesekali harus ke luar rumah, dan melihat kondisi yang ada, saya serasa menjadi orang aneh sendiri. Ternyata diluaran sana, orang-orang hidup selayak tidak dalam kondisi Pandemi Covid 19. Tidak ada social distancing atau physical distancing. Tidak ada masker. Pantesan, ini mungkin salah satu penyebab Pendemi ini seakan enggan untuk berakhir, begitu pikir saya.

Sudah jelas ada protap yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan penuh disiplin. Entahlah, ini salah bagian mananya?

*

Dalam sejarahnya, umat Islam pernah mengalami yang namanya wabah penyakit. Dalam kitab Badzlul Ma’un Fi Fadhlit Tha’un karangan al-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) halaman 328. Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa dahulu pernah terjadi wabah tha’un yang besar yang menyerang kota Damaskus pada tahun 794 H. Agar wabah tersebut hilang, para umat Islam melakukan doa bersama di tempat terbuka.

“Dan kemudian orang-orang keluar menuju lapangan terbuka beserta pembesar-pembesarnya negeri (Damaskus), lalu mereka berdoa dan meminta (kepada Allah Swt). (Akan tetapi) setelah kejadian tersebut, wabah tha’un malah menjadi besar dan menjadi banyak, sedangkan sebelum mereka berkumpul untuk doa bersama, wabah tersebut masih dalam skala kecil.”

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 H di kota Kairo, Mesir. Masyarakat di kota tersebut melakukan inisiatif doa bersama agar wabah penyakit hilang dari negeri tersebut, akan tetapi wabah tersebut menjadi parah setelah mereka berkumpul bersama.

“Jumlah orang yang meninggal sebab wabah penyakit tersebut di bawah 40 orang. Kemudian orang-orang keluar menuju lapangan terbuka pada tanggal 4 Jumadil Ula, setelah mereka diminta untuk berpuasa tiga hari terlebih dahulu seperti ketika akan salat Istisqa dan mereka berdoa dan melaksanakan salat, kemudian kembali ke rumah. Ketika belum sampai satu bulan terlewati (sejak berkumpul bersama), jumlah orang yang meninggal dalam satu hari mencapai seribu di kota Kairo, kemudian tambah lebih banyak lagi.”

Apa yang telah diceritakan oleh al-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani tentunya harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa ketika terjadi wabah penyakit yang menular, kita harus mengurung diri dan jangan mendekati tempat keberadaan wabah tersebut seperti sabda Rasulullaah saw di atas, sekalipun untuk berdoa bersama.

Berdoa bersama merupakan suatua amalan yang baik, akan tetapi dalam keadaan wabah penyakit menular yang liar tentu akan lebih banyak mafsadat (kerugian) yang akan didapatkan. Karena dalam ilmu qawaid fiqih terdapat kaidah dar’ul mafasidi muqoddamun ala jalbil masholihi (mencegah kerusakan/kerugian diutamakan daripada mendatangkan keuntungan/kebaikan).

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk mengikuti saran para medis dalam masalah yang berkaitan dengan kesehatan, yang mereka menyarankan agar masyarakat melakukan social distancing, karena dalam konteks kesehatan yang menjadi ahlinya adalah para medis, bukan ustadz atau kiai.

*

Kembali ke kondisi kini, di sini. Dimana ternyata masih banyak orang-orang yang mengabaikan protap masa Pandemi, dan itu dengan sadar dilakukannya. Entah karena kejenuhan yang memuncak? Tapi tetap, hal ini bukan membuat kondisi membaik, tetapi malah sebaliknya. Bahkan ada juga yang menganggap sepele wabah Covid 19 ini. Ditambah, kebijakan yang tidak pasti dari pemerintah, membuat semuanya menjadi tidak jelas. Hingga ramailah tagar #IndonesiaTerserah.

Maka kalau ditanya dimana salahnya? Ya jawabannya adalah ada didalam pribadi orang-orang yang mengabaikan dan menganggap sepele Pandemi ini. Tanyakan sama mereka. Mengapa mereka seperti itu. Padahal, untuk berbuat baik seperti berdoa bersama saja dilarang saat wabah terjadi, bagaimana dengan aktivitas tak sebaik berdoa?

Sungguh, jiwa ini rindu, rindu sujud di rumah-Mu ya Rabb… bukalah hati orang-orang untuk disiplin manjalankan protap Pendemi Covid 19, ampuni dosa-dosa kami Yaa Rabb…

Ramadhan kan berlalu, berlalulah pula corona.. Aamiin…

Saat macet di tol, PSBB tidak ngefek…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *