Berumah tangga itu, perlu ada rumahnya. Baik dalam arti rumah secara fisik, atau rumah arti non fisik. Secara fisik, kita sepakat, perlunya tempat tinggal sendiri, berpisah dari orang tua atau mertua. Ya, ketika belum mampu membeli rumah sendiri, cukuplah berupa kontrakan. Sebab, dari pada memaksakan, malah terjerat dalam hutang riba, maka mengontrak menjadi sebuah pilihan tepat. Sambil menabung, hingga saatnya bisa membeli rumah sendiri.

Rumah non fisik, ini adalah “ruang” privasi keluarga. Sehingga masing-masing individunya bebas bicara dan bercengkrama. Menemukan solusi-solusi atas setiap permasalahan yang terjadi. Privat. Tak perlu orang lain tahu. Tak perlu “keluar rumah” segala masalah yang menimpa. Privasi. Dibahas berdua dengan cinta. Bahkan, orang tua atau mertua pun semestinya tidak mengetahui jika ada hal mengganjal. Biarkan mereka tetap tersenyum dengan ke-sakinah, mawadah, warahmah-nya kita. Bukankah saat ikrar terucap menjadi tanggung jawab bedua saja, khususnya sang suami?

Rumah tangga. Maka semestinya semakin berusia sebuah ikatan rumah tangga, semakin kokohlah ia di puncak kualitas kehidupan. Bukan sebaliknya. Yang semakin lama, semakin memudar rasa cinta dan sayangnya. Yang semakin lama, semakin hilang keharmonisannya. Yang semakin lama, masing-masing terhinggapi kebosanan yang tak berujung. Sayang seribu kali sayang. Padahal rumah tangga, itu selayak tangga, yang harus kita naiki, agar berada sebuah keluarga, di puncak kualitasnya.

Maka rumah tangga itu, ada anak tangga-anak tangga yang harus kita pijak. Dan bisa jadi itu berwujud masalah-masalah yang muncul. Komunikasi yang mandeg, ego yang tak terkendali, anak-anak, orang tua atau mertua yang terlalu ikut campur, sampai masalah ekonomi. Dan saat mampu mengatasi, sejatinya ia sedang naik tangga, terus dan terus, menuju puncak kualitasnya.

Rumah tangga. Mari siapkan bagi yang hendak berumah tangga. Kuatkan dan isi selalu dengan cinta bagi yang sudah memilikinya. Jagalah rumahnya, jagalah ruang privasinya.

Imam Nugroho

Tags:

Leave a Reply